



















Melakukan konfigurasi atau setting sound effect compressor adalah merupakan sebuah proses di dalam proses mixing dan mastering yang memiliki peranan cukup penting, namun biasanya tidak dianggap terlalu serius oleh kebanyakan sound-engineer pada era digital dewasa ini. Berkembangnya sound effect compressor yang telah dilengkapi dengan beragam preset asli pabrik, telah menyebabkan beberapa dari mereka (sound-engineer) menjadi sound-engineer yang pragmatis, dan merasa tidak perlu membuat setting elemen-elemen control compressor yang terdapat di dalamnya, sehingga potensi dari sound effect tersebutpun tidak tereksplorasi dengan baik. Preset-preset asal pabrik yang disediakan oleh sound effect compressor ( dan sound effect- sound effect lain pada umumnya ) memang akan sangat membantu untuk mempersingkat proses mixing dan mastering. Namun hendaknya, preset-preset tersebut selayaknya hanya dianggap sebagai sebuah "starting point", dan jangan dianggap sebagai sebuah setting atau konfigurasi baku yang bisa menyulap hasil rekaman langsung menjadi sangat sempurna.
Koneksi penyambungan dengan sistem balanced biasanya menggunakan tiga-konduktor sebagai konektornya, sebagai contoh terdapat pada kabel dan konektor XLR atau TRS. untuk jenis XLR dapat kita jumpai dalam perkabelan microphone, sedangkan TRS biasa digunakan sebagai kabel dan colokan untuk in/out mixer.
Banyak sekali microphone-microphone yang beroperasi pada level tegangan tingkat rendah dan beberapa dengan impedansi output tingkat tinggi (hi-Z). Dengan pemakaian kabel yang panjang maka kabel microphone tersebut sangat rentan terganggu dengan gangguan elektromagnetik (search di oksida.com untuk mempelajari gangguan elektromagnetik). Solusi pencegahan terhadap gangguan eksternal tersebut bisa diredam dengan sistem audio balanced.
Terkadang power amlplifiers berada jauh dari peralatan mixing console. Nah untuk kondisi seperti ini sangat tepat kalau kita menggunakan sistem kabel balanced, karena untuk peralatan-peralatan seperti efek, mixer maupun equalizer dewasa ini in / out-nya sudah support dengan penggunaan kabel balanced, jadi sistem audio bisa terhidar dari gangguan elektromagnetik.
Sistem kabel balanced mempunyai ciri fisik yaitu, terdiri dari 3 konduktor, ditengahnya terdapat dua kabel konduktor yang dililiti atau dilingkari dan dibungkus dengan konduktor ketiga (berupa foil dan anyaman) yang berfungsi sebagai perisai dari gangguan elektromagnetik
Istilah “Balanced” berasal dari metode pengidentifikasian impedansi dari sumbernya, yang kemudian dimuat ke setiap masing-masing kabel. Ini berarti akan banyak gangguan elektromagnetik yang akan timbul dan menyebabkan noise voltase yang sama disetiap kabelnya. Amplifier yang berada diujung akan mengukur perbedaan dalam bentuk voltasi diantara kedua garis sinyal, noise yang teridentifikasi di kedua kabel akan diredam dan ditolak. noise yang diterima berikutnya (yang kedua) akan dibalikkan dan digunakan untuk menolak noise sinyal tegak lurus pertama dan membatalkannya ketika kedua sinyal dikurangi. Kabel konduksi ketiga juga digulung melingkar untuk mengurangi gangguan induksi elektromagnetik.
Kabel balance untuk instalasi tidak berbeda jauh dari kabel microphone dalam bentuk, ukuran, dan isi bagian dalamnya. Yang membedakannya hanyalah bahan pembuat bunggkus luar kabel yang lebih keras dan pelindungnya (sheilding) berupa aluminium foil. Pada kabel ini biasanya kabel untuk ground dibuat tersendiri dalam bentuk kawat yang dililit. Mengapa digunakan aluminum foil? Karena kabel ini ditujukan untuk mampu menolak pengaruh gelombang magnetik dan gelombang radio hingga mencapai 100%. Sedangkan pada kabel microphone biasa hanya dijamin mencapai 94% saja.
Kabel unbalance
Kabel balance
Jika jarak cukup dekat (kabel pendek) dan noisenya tidak terlalu mengganggu, cukup pakai kabel UNBALANCE. Tapi jika jaraknya cukup jauh (butuh kabel yangg panjang), sebaiknya pakai kabel BALANCE supaya noisenya minimal. Untuk mengubah sinyal UNBALANCE menjadi BALANCE, digunakan DI BOX (Direct Box). Sinyal dari amp simulator / fx itu biasanya penguatannya kecil karena dirancang untuk direct record yg asumsinya tidak membutuhkan kabel yg panjang menuju input mixer/recorder. Jika dipaksakan menggunakan kabel yg panjang (otomatis hambatan/ohm jadi lebih besar) maka akan terjadi penurunan/drop sinyal yg sangat besar. Hasilnya suara yg muncul akan kekurangan gain dan cenderung ‘tipis’. Untuk itu dirancang suatu alat yg namanya Direct Box yg fungsinya untuk menyamakan impedansi dari amp sim ke mixer dan menjaga kualitas sinyalnya
Pada artikel sebelumnya menjelaskankan tentang mikropon jenis kondensor. Kali ini juga akan mengenalkan jenis lain dari mikropon, yaitu mic berjenis dynamic atau dinamik atau dinamis terserah enakan mana menyebutnya. Mikropon jenis ini merupakan jenis mic yang sangat fleksibel dan tujuan penggunaannya untuk umum, tidak hanya untuk recording saja tapi dalam keadaan live, mic ini dapat digunakan, jadi penggunaanya multi fungsi. Dalam desain pembuatannya mic ini didesain sangat sederhana, tidak serumit mic condenser mic ini tidak memerlukan phantom power atau preamp. Tinggal colok langsung bunyi meskipun jika kita tidak puas dengan hasil suara yang dihasilkan, kita bisa menambah dengan preamp dan harganyapun terjangkau, makanya jenis mic ini merupakan jenis mic yang laku keras dipasaran.
Jika di jabarkan kelebihan dari microphone jenis dynamic adalah:
Menggunakan dasar prinsip elektromagnet maka mikropon dinamik menggunakan kumparan kawat dan magnet guna menghasilkan sinyal audio. Sebuah diafragma dilekatkan dikoil, ketika diafragma tersebut bergetar dikarenakan adanya gelombang suara yang masuk, maka koil tersebut bergerak kedepan dan kebelakang melewati magnet, nah gelombang magnet tersebut menginduksi koil yang menciptakan sebuah aruk elektromagnetik. Kemudian arus tersebut disalurkan lewat kabel microphone keperalatan seperti amplifier atau peralatan lainnya. Perhatikan gambar dibawah sebagai ilustrasinya.
Mikropon merupakan transducer yang merubah gelombang suara menjadi sebuah energi elektromaignetik atau arus listrik. Jika anda perhatikan secara cermat ada kemiripan cara kerjanya antara mikropon dan loudspeaker. Jika loudspeaker merubah tenaga listrik menjadi suara, maka microphone berfungsi kebalikannya. Dasar-dasar mic dynamic merupakan kinerja loudspeaker yang terbalik. Dilapangan anda akan mendapati sistem interkom yang menggunakan speaker sebagai mikroponnya. Bahan-bahan dasar magnet seperti neodymium merupakan jenis magnet yang lebih kuat magnetnya dibandingkan jenis magnet lainnya, maka banyak pabrik yang menggunakan neodymium untuk menciptakan mic yang berukuran kecil karena menghasilkan responsi frekuensi linier yang lebih dan bisa menghasilkan output level yang tinggi.
Perlu di ketahui dipasaran saat ini ada berbagai macam jenis-jenis mikropon, salah satunya adalah mikropon jenis kondensor. Jaman dulu orang menggunakan istilah bahasa kondensor sama juga dengan capacitor (kapasitor) akan tetapi dalam perkembangan waktunya orang sering menyebut mic ini dengan nama mic kondensor. Microphone condenser atau mikrofon kondensor pertama kali ditemukan pada tahun 1916 di Bell Labs, mereka menyebut microphone capacitor / kapasitor atau microphone electrostatic / elektrostatik.
Dalam pengoperasian mic kondensor, jenis mic ini memerlukan suber daya baterai atau sumber daya eksternal phantom power agar mikropon bisa beroperasi. Maksudnya mic ini harus menggunakan penguat atau preamp sebelum dicolok ke ampli atau alat lainya. Penggunaan mic condenser memerlukan konsumsi tenaga listrik, tenaganya bisa berasal dari baterai yang diletakkan dalam mic tersebut (harus diganti jika habis baterai) ataupun dari tenaga listrik eksternal (sampai 48 V, yang biasa disalurkan lewat kabel microphone). Akan tetapi beberapa jenis mikrofon kondenser buatan Eropa memakai sistem berbeda yang disebut tenaga “A-B” atau “T” yang tidak kompatibel dengan phantom power (untuk jenis ini kita harus berkonsultasi atau mempelajari manualnya, jadi bisa memilih mixer yang tepat yang mensupport jenis mic tersebut). Mic kondensor menghasilkan sinyal audio yang lebih kuat dibandingkan dengan model mic dinamik. Mic kondensor ini juga sanagat responsif dan sensitif dan sangat baik bekerja di high-volume, karena kesensitifannya tadi maka mic ini rentan terhadap distorsi.
Dalam mic ini terdapat kapasitor yang terdiri dari dua keping plat atau piringan yang keduanya mempunyai voltage atau tegangan. Salah satu dari plat tersebut terbuat dari materi yang sangat ringan yang bertindak sebagai diafragma dan sensitif dengan gelombang suara. Diafragma tersebut akan bergetar jika ada gelombag suara yang datang. Fungsinya adalah dengan merubah jarak antara dua plat tersebut maka akan merubah kapasitinya, jadi disaat plat bergetar maka hal yang terjadi adalah mula-mula plat akan berdekatan yang mengakibatkan kapasitas akan meningkat dan merubah voltasi muatan arus, kemudian sebaliknya plat akan menjauh yang mengakibatkan kapasitasnya menurun yang mengakibatkan voltasi juga berubah.
Mic electret condenser merupakan jenis mic kondensor juga yang menggunakan kapasitor sebagai elemen dasarnya. Cuman perbedaannya mic electret kondensor menggunakan jenis kapasitor khusus yang mempunyai tegangan permanen yang dibuat saat pembikinan dipabriknya.
Bahan dasarnya semacam magnet permanen yang dalam hal ini tidak perlu menggunakan eksternal power untuk mengoperasikannya. Akan tetapi jika anda membeli mic electret condenser yang bagus biasanya menyertakan pre-amplifier dalam satu paket. Sebuah mic electret condenser penjelasannya sama dengan mic condenser secara normal. Dan untuk contoh-contoh dari mic electret condenser yang ada dipasaran, silahkan anda googeling aja agar lebih jelas dan lebih detail, apalagi tiap saat selalu diciptakan mic baru.
Mic kondenser yang ada dipasaran rata-rata merupakan mic profesional, untuk mic profesional harganya ngak ramah dikantong bahkan ada yang harganya sampai puluhan juta. Maka saran saya jika ingin memiliki sebuah mic condenser, anda harus pintar dalam memilih sebelum membeli, tanyakan pada pakar dan kenali karakter mic-nya, jadi untuk keperluan apa mic itu dibeli maka pas anda beli ditoko anda tepat memilih mic tersebut.
Nilai dari R3 harus disesuaikan dengan supply amplifier, sehingga LED1 beroperasi dengan kecerahan yang benar. Untuk melakukan itu, pertama mengukur tegangan suplai positif penguat, kemudian gunakan Hukum Ohm (R = V / I) untuk menghitung nilai dari R3 untuk arus sekitar 20mA. Ssirkuit ini hanya dapat digunakan untuk memantau positif-akan setengah siklus dari gelombang audio. Jika Anda ingin memantau setengah siklus negatif juga, Anda harus membangun sebuah sirkuit kedua dengan perubahan berikut:
Bagian pertama dari sirkuit ini Preamplifier ditunjukkan pada Gambar. 2 adalah satu-transistor penguat common-emitor dengan umpan balik degeneratif di emitor dan pembagi boot-bias yang terikat untuk mengamankan impedansi input yang optimal. Dengan komponen nilai-nilai yang ditunjukkan di sini, impedansi input di atas 50-ohm kilo dan tegangan output adalah sekitar 2V puncak RMS. Master-tingkat kontrol potensiometer VR1 harus disesuaikan untuk distorsi minimal. Masukan dari pickup gitar diumpankan ke Preamplifier ini di terminal J1. Sinyal adalah buffered dan diproses oleh rangkaian op-amp TL071 kabel sekitar IC (IC1). Mengatur keuntungan menggunakan VR2 preset. Rangkaian memiliki master dan kontrol.
lebih baik untuk mengambil sinyal dari J2 sebagai masukan untuk sistem power amplifier atau mixer suara. Output sinyal dari J3 dapat digunakan untuk menggerakkan amplifier headphone standar. Menggunakan VR3 potensiometer, mengatur output budak tingkat sinyal J3. VR1 dan VR3 sebaiknya jenis metal. Untuk mencegah hum. 9V DC power supply sangat penting untuk sirkuit ini. dengan baterai standar 9V juga dapat digunakan untuk daya rangkaian ini. Saklar S1 adalah daya pada switch / off.