- Usahakan bernyanyi tidak lebih dekat dengan loudspeakernya.
- Biasakan untuk memegang microphone tidak mengarah ke loudspeaker.
- Pakailah microphone yang baik tapi bukan berarti yang mahal.
- Dekatin microphone dari sumber suara yaitu mulut kita sendiri.
- Matikan fungsi saklar on / off pada microphone bila tidak dipergunakan.
- Gunakan level volume mic ( SPL ) seimbang dengan musiknya.
- Jangan pernah memakai busa penutup kepala mic yang tebal, walaupun bau biarin aja….makanya tuh kop mic dicuciin….he…he…he…
Ada Microphone Koq Yang Muncul Feedback
Equalisasi ( II )
- 1. Bagaimana cara meng-eq suatu system
Kembali kepada konsep equalisasi adalah untuk mengembalikan suara kepada bentuk awalnya. Hanya saja telinga manusia memiliki respon yang berbeda-beda terhadap suara, bergantung kepada kualitas pendengarannya dan rasa seni orang tersebut. Untuk membuat equalisasi menjadi obyektif maka kita semua perlu “melihat” sinyal yang dihasilkan speaker. Salah satu alat yang dapat kita gunakan adalah RTA (Real Time Analyzer), alat ini dapat memperlihatkan respon yang diterima dari sumber sinyal yang diterimanya.
Alat ini akan memperlihatkan spektrum suara (rentang frekuensi suara yang dapat diterima oleh alat tersebut) yang dimulai dari 1 oktaf, 1/3 oktaf, 1/6 oktaf, hingga 1/24 oktaf. Cara kerja alat ini adalah dengan mengolah sinyal yang diterimanya dan memilah-milahnya menjadi frekuensi-frekunsi yang tersedia pada alat tersebut. Grafik yang kita lihat dapat berupa dot (lampu-lampu LED), batang, atau hanya berupa garis pada titik puncak frekuensi yang terukur. Sumbu horizontalnya / sumbu x menunjukkan frekunsi dalam satuan Hz dan sumbu vertikalnya / sumbu y menunjukkan kekerasan (gain) dalam satuan dB.
Teknologi ini dikembangkan sejak tahun 1970, dan semakin berkembang di tahun 1980-an, pada era ini diciptakan RTA yang samplingnya / analisisnya berdasarkan FFT (Fast Fourier Transfer). RTA ini lebih akurat dibandingkan dengan RTA yang hanya mengukur berdasarkan arus sinyal elektronik yang masuk ke dalam alat tersebut .
- 2. Kelemahan RTA
RTA memang sangat berguna, akan tetapi ada beberapa keterbatasan RTA sebagai berikut (Bob McCarthy, 2003) :
- Informasi RTA terbatas, tidak mengenal pantulan, padahal respon yang ia tampilkan adalah suara asli ditambah dengan pantulan, fasa speaker, dan berapa lama sinyal tersebut dalam perjalanan hingga diterima oleh microphone.
- RTA tidak memberikan informasi apakah sinyal yang ia terima serupa dengan sinyal yang masuk ke dalam speaker. Ia hanya menggambarkan energi akuistik yang diterima oleh microphone / di sekitar microphone. Jadi spektrum yang kita lihat dalam bentuk lembah atau gunung kemungkinan adalah pantulan, atau sinyal yang saling menguatkan (summation) atau bahkan sinyal yang saling menghilangkan (canceling). Kedua hal tersebut dapat terjadi sebagai akibat interaksi antara speaker dan ruangan.
Menurut saya masih ada lagi hal-hal lain sebagai berikut :
- RTA sangat tergantung kepada kualitas microphone yang kita gunakan untuk mengukur, dan kualitas kabel yang kita pergunakan.
- Jika kita menggunakan RTA program dalam komputer sound card kita memberikan andil yang cukup besar dalam mengaburkan hasil ukur.
RTA hanya dapat mengkoreksi masalah yang timbul tetapi tidak dapat menyelesaikannya.
- 3. Kapan harus menggunakan RTA dan kapan tidak?
Kapan kita tidak boleh menggunakan RTA secara langsung :
- Jika anda menghadapi ruangan dengan multi speaker atau speaker dalam jumlah banyak maka yang anda harus lakukan adalah menyeragamkan waktu tempuh setiap speaker dengan men-delay-nya terlebih dahulu.
- Jika anda menghadapi masalah akuistik ruang yang cukup parah, software apapun untuk mengetes system tidak akan dapat digunakan. Selesaikan dulu masalah akuistik!!
- System anda memiliki perkabelan yang buruk!! Managemen kabel hasur diperbaiki terlebih dahulu, dan menggantik kabel-kabel dengan respon suara yang kurang baik.
- 4. Langkah-langkah meng-eq suatu system
Agar system kita dapat di equalisasi dengan baik maka kita perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut (Dennis A. Bohn, 1997) :
- Jauhkan sejauh mungkin speaker dari sudut ruangan.
- Minimalkan pantulan speaker, dengar suara aslinya. Banyak gereja manaruh speaker di kiri dan kanan ruangan, akibatnya speaker akan memantulkan suara ke dinding.
- Jika anda menghadapi masalah akuistik ruang yang cukup parah, software apapun untuk mengetes system tidak akan dapat digunakan. Selesaikan dulu masalah akuistik!!
Latihlah telinga anda untuk mengenal frekuensi-frekuensi suara yang sering harus kita eq, atau sering menimbulkan masalah. Lakukanlah latihan sebagai berikut :
- Pilih sumber suara yang kita kenal, sebagai contoh CD lagu kesukaan anda atau suara anda sendiri.
- Set eq parametrik di mixer dalam posisi flat.
- Bypass kompressor yang dipasang pada jalur speaker yang akan kita gunakan, karena dapat mengaburkan penilaian kita, terlalu
Interaksi antara ruangan dan suara dari speaker adalah kasus yang sukar di selesaikan sebelum memposisikan kembali speaker.
Equalisasi ( I )
1. Apa yang Dimaksud Dengan Equalizer
Equalizer adalah alat yang dapat digunakan untuk menyamakan suara speaker mendekati sumber aslinya atau mengembalikan suara speaker seperti suara aslinya. Banyak orang salah mengartikan fungsi equalizer, mereka menggunakannya untuk mengangkat frekuensi-frekuensi tertentu yang sebenarnya tidak perlu diangkat, atau bahkan mengurangi frekuensi-frekuensi tertentu yang tidak perlu dikurangi. Mengapa demikian? Sebenarnya equalisasi sangat tergantung dari rasa seni seseorang dan respon telinga orang yang mengoperasikan peralatan sound system.
Supaya kita dapat men-eq system dengan baik, maka sebelum kita menggunakannya kita perlu memahami kerja eq terlebih dahulu. Parameter apa saja yang dapat kita ubah pada equalizer? Tombol apa saja yang terdapat pada equalizer? Dan bagaimana cara menggunakannya? Inilah pertanyaan yang akan dilemparakan orang ketika akan menggunakan equalizer, tombol-tombol tersebut adalah :
- Gain / level, adalah tombol yang digunakan untuk menambah atau mengurangi frekuensi yang kita inginkan.
- Low pass / High pass, adalah tombol yang digunakan menghilangkan frekunsi-frekuensi di bawah atau di atas frekuensi yang kita set.
- Q / Bandwidth, adalah tombol yang digunakan untuk memperlebar atau mempersempit kurva equalizer.
- Frequency, mengubah frekuensi sehingga mencapai frekuensi yang kita inginkan.
- Volume gain / make up gain, adalah tombol yang digunakan untuk menambah atau mengurangi level suara yang keluar dari equalizer.
Ada bermacam-macam jenis equalizer sesuai dengan jenis dan penggunaannya. Berdasarkan jenisnya dapat dibagi menjadi :
1.1. Parametrik equalizer
Kurva equalizer ini dapat kita geser dan rubah bentuk kurvanya, dengan kata lain semua parameter (ukuran) yang ada dapat kita rubah. Parameter yang dapat kita ubah adalah :
- Gain, untuk mengurangi atau menambah kurva parametrik yang kita inginkan, besarnya diukur dalam dB.
- Q, adalah besaran yang digunakan untuk memperlebar atau mempersempit kurva parametrik sesuai dengan yang kita inginkan, besarannya pada umumnya menggunakan skala 0,1 hingga 10.
- Frekuensi, frekuensi pada equalizer parametrik dapat kita geser hingga mencapai frekuensi yang kita inginkan.
Bentuk kurva pada parametrik equalizer ada 2 :
- Shelving, bentuk kurva ini memiliki puncak pada bagian akhir frekuensi rendah maupun frekuensi tinggi dari spektrum frekuensi yang kemudian mendatar hingga akhir frekuensi. Seperti hi-shelving, akan mengangkat puncak frekuensi 12 kHz, dan low-shelving akan mengangkat frekuensi 80 Hz pada umumnya. Beberapa eq menyediakan fasilitas untuk kita dapat mengubah frekuensi pada puncak kurva.
- Bell shape, bentuk kurva pada equalisasi ini adalah seperti lonceng, pada umumnya parametrik murni akan menggunakan bentuk equalisasi ini.
1.1. Grafik equalizer
Equalizer yang hanya dapat kita tambah dan kurangi pada frekuensi yang sudah ditetapkan oleh pabrik, biasanya berdasarkan besarnya oktav. Yang umum beredar di pasaran adalah 1/3 oktav (31 titik frekuensi) dan 2/3 oktav (15 titik frekuensi). Grafik equalizer dapat kita bagi dalam beberapa jenis.
- Constant Q, bentuk kurva (Q) grafik eq ini tetap walaupun gain hanya di ubah sedikit ataupun banyak
- Variable Q, bentuk kurva grafik eq ini tidak tetap, tergantung dari berapa bayak kita mengangkat gain.
- Bandpass filter parameter, bentuk kurva tetap dan gain tetap hanya frekuensi yang dapat kita geser.
- Perfect Q, adalah grafik eq analog tapi diproses secara digital, mirip dengan constant Q hanya lebih akurat.
1.1. Filter
Pada umumnya orang tidak memasukkan filter sebagai jenis equalizer oleh karena cara kerjanya yang mirip dengan crossover. Tetapi menurut saya filter dapat pula membantu kita mengurangi frekuensi yang tidak kita inginkan, sehingga dapat pula kita masukkan sebagai salah satu jenis equalizer.
Contoh dari eq ini adalah switcable highpass dan switcable lowpass, Highpass filter sangat berguna untuk mengurangi suara pop pada microphone. Sedangkan lowpass dapat membantu kerja driver suara tinggi agar tidak bekerja berlebihan sebagai akibat frekuensi tinggi yang sebenarnya tidak terdengar, tetapi merusak.
- 2. Kegunaan dari Eq
Sekali lagi jangan kita salah langkah dalam menggunakan eq, karena itu harus kita memahami apa saja kegunaan dari eq. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari kegunaan eq :
- Mengurangi feedback.
- Menambah frekuensi yang kita inginkan pada saat sistem bersuara kecil, dan mengurangi frekuensi yang tidak kita inginkan pada saat kita mengangkat volume / gain lebih keras.
- Membantu respon ruangan terhadap suara, setiap ruang tidak memiliki respon yang sama terhadap suara. Walaupun kita memasang speaker dan peralatan yang sama dengan tempaat lain.
- Side chain / dynamic eq.
- Memperbaiki kerja speaker.
- 3. Berpikir Dua kali sebelum meng-eq system
Orang cenderung menggunakan equalizer sebagai dewa penyelamat, mereka sangat berharap eq dapat menyelesaikan masalah mereka. Tidak jarang sound engineer membeli eq yang harganya puluhan juta! Hanya karena sugesti bahwa alat tersebut dapat membantu mereka menyelesaikan masalah yang terjadi dengan sistem mereka. Saya adalah orang yang paling anti menggunakan eq, sebelum masalah-masalah di bawah ini selesai terlebih dahulu :
2.1. Ruangan
Ruangan akan menjadi pembatas kita dalam meng-eq system, setiap ruang memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Jangan sekali-kali kita menyama ratakan setiap ruangan, dan mengidolakan suatu bentuk setting eq. Jangan mimpi suara rendah dapat keluar dari speaker pada ruangan yang penjangnya 4m, karena panjang gelombang suara rendah tidak dapat beresonansi dengan baik. Atau sebaliknya kita berharap suara rendah sub dapat terdengar dari jarak puluhan meter dengan jelas, karena daya rambat suara rendah yang terbatas.
Permasalahan utama di dalam ruangan adalah geometri ruangan itu sendiri (ukuran), baik jumlah jendela, luas dinding, dan di mana letak benda-benda tersebut. Meng-eq di dalam ruangan perlu berhati-hati oleh karena pantulan dapat mengaburkan frekuensi mana yang seharusnya kita ubah.
2.2. Letak speaker
Jangan bermimpi mendengar suara sub yang solid jika kita menaruhnya di kiri dan kanan panggung. Suara rendah mutlak harus berasal dari satu sumber. Peletakkan yang berpencar akan mengakibatkan efek yang disebut power alley (lorong tenaga). Eq dapat menolong? Tentu saja tidak, bahkan menambah besar jarak antar lorong tenaga tersebut
2.3. Tidak seragamnya waktu tempuh antar komponen speaker
Ini adalah ilmu yang dikembangkan sejak pertengahan tahun 1980an, hanya saja peralatan pendukungnya pada saat itu masih sangat mahal. Saat ini dengan kemajuan komputer dan harga komputer dan software-nya semakin murah, membuat peralatan digital pendukung penyetelan speaker semakin murah pula, sehingga kenyamanan orang mendengar speaker bersuara rapih semakin bertambah.
Mengapa waktu tempuh antar komponen berbeda, ini cerita yang cukup panjang yang akan kita bahas dilain waktu. Hanya saja jika kita meng-eq sistem yang tidak di seragamkan waktu tempuh antar komponen speaker maupun antar speaker, ini merupakan usaha yang sia-sia, karena sistem anda tetap berisik dan suaranya tetap berbalap-balapan.
2.4. Kabel (jenis dan panjang kabel)
Orang bule saja tidak percaya kalau kabel dengan merek, jenis, dan panjang yang berbeda akan menghasilkan suara yang berbeda. Saya belajar perkabelan sejak hampir 10 tahun lalu, dan saya temukan bergam respon kabel dan beragam pula hasilnya. Kita tidak perlu meng-eq sistem kita terlalu banyak apabila manajemen kabel kita baik.
2.5. Karakter alat
Setiap alat memiliki karakter suara yang berbeda-beda, jangan berharap ala-alat murah dapat di eq menjadi baik. Mohon diingat bahwa semua alat sound memiliki karakter suara yang berbeda-beda dan tidak semua produk memiliki suara yang baik.
2.6. Banyaknya microphone yang terbuka (NOM = number of open microphone)
Harap diingat pada saat meng-eq feedback bahwa setiap bertambahnya 1 buah microphone akan menambah 3 dB pada gain system. Semakin banyak microphone yang berbunyi akan semakin besar pula kemungkinan feedback.
2.7. Penyimpangan fasa (phase shifting)
Penyimpangan fasa justru terjadi sebagai akibat terlalu kita terlelu banyak meng-eq, atau bahkan menggunakan kabel unbalance yang sangat panjang.
2.8. Jarak posisi anda mendengar dari speaker
Jarak kita mendengarkan speaker akan mempengaruhi penilaian telinga kita terhadap apa yang akan kita eq. Ingat bahwa di udara juga terjadi hambatan.
2.9. Umur speaker
Saya pernah bersam-sama Sony dan Thomas mendemokan speaker di BATS di hotel Shangrila di Jakarta 3 tahun yang lalu. Produk tersebut sudah terkenal dengan suaranya yang cukup kencang tapi masih eanak didengar. Ternyata waktu kami pasang suaranya agak kasar dan Sony pun heran “……. biasanya suara suaranya tidak begini nih!”. Kejadian yang sama terulang ketika saya memasang speaker dengan merek yang sama untuk OB Van radio Dahlia, ketika kami coba suara yang sama kembali terdengar, kami mencoba meng-eq-nya dengan susah payah. Saya baru teringat bahwa speaker tersebut baru saja kita keluarkan dari dalam dusnya, he, he, he, ……speaker ada indreyen-nya juga ya. Tidak mungkin keluar dari dus kita harapkan suaranya jadi bagus. Masalah ini kita bahas lain waktu.
2.10. Suhu dan kelembaban
Jangan berharap kita dapat meng-eq di ruangan yang tidak konstan suhu dan kelembabannya. Mengapa? Pada suhu rendah suara tinggi dan rendah akan terdengar lebih kuat dibandingkan dengan pada suhu tinggi, ini disebabkan pada suhu tinggi kelembaban akan bertambah. Bertambahnya kelembaban akan menambah pula hambatan bagi suara di udara.
Jangan sekali-kali meng-eq dalam kondisi suhu ruangan yang panas atau ac belum dinyalakan. Karena pada saat ac dinyalakan suhu udara akan turun dan suara tinggi akan kembali terdengar dengan jelas.
2.11. Respon telinga operator sendiri
Banyak operator memiliki selera sendiri, bahkan tidak sedikit operator bahkan pemain musik digereja menyetel eq 1/3 oktaf mereka seperti “disco smile”. Kedua ujung frekuensi eq diangkat dan semakin menurun pada bagian tengahnya.
Jika operator sound di gereja memilih menyetel dengan seleranya sendiri, sebaiknya operator tersebut belajar mendengar suara “standard” yang baik. Camkan kata-kata ini “Gereja bukan milik sekelompok orang, atau bukan hanya dimiliki satu orang”.
Interaksi antara ruangan dan suara dari speaker adalah kasus yang sukar di selesaikan. Jalan keluarnya adalah hanya dengan memposisikan kembali speaker ketempat yang seharusnya.
- 4. Kesimpulan
Agar dalam meng-eq system, dapat memperoleh hasil yang baik dan maksimal, maka kita harus mampu menemukan masalah dalam sistem kita yang belum seimbang / harus di-eq. Memang eq dapat membantu mengurangi beberapa titik feedback dan sedikit membantu respon speaker terhadap ruangan.
Pickup Gitar & Spesifikasinya
- Magnet Ada beberapa jenis magnet yang digunakan untuk pickup gitar. Tapi pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu Ceramic dan Alnico. Alnico sendiri merupakan magnet yang terdiri dari gabungan Aluminium, Nikel, dan Cobalt. Magnet termasuk salah satu yang cukup memberi kontribusi pada tone. Karena magnet inilah yang akan menentukan seberapa besar medan magnet yang akan tercipta dari getaran sang dawai. Dan hasilnya berupa sustain dan tone yang smooth atau yang lebih dramatis. Alnico juga masih terdiri dari Alnico II dan Alnico V yang secara total dapat memberikan perbedaan yang lumayan mencolok. Alnico II akan menghasilkan sound yang lebih smooth, lebih warm dengan tone yang khas. Sedangkan Alnico V cenderung lebih bright, lebih berdinamika dengan kadar bottom end yang lebih tight dibanding yang Alnico II. Contoh pickup terkenal yang menggunakan magnet Alnico II adalah: Alnico II Pro Humbucker, Seth Lover Model SH-55, Stag Mag SH-3, dan Pearly Gates SHPG-1 yang kesemuanya adalah buatan Seymour Duncan. Sedangkan pickup DiMarzio yang menggunakan Alnico II adalah Seymour Duncan yang menggunakan magnet Alnico V adalah: ’59 Model SH-11, Jazz Model SH-2, Screamin Demon SH-12, dan JB Model SH-4. DiMarzio juga menggunakan Alnico V pada tipe Tone Zone, Paf Pro, dan lain-lain. Lain Alnico, lain pula Ceramic. Ceramic ini terbuat dari paduan antara bahan material yang diambil dari bumi, seperti Barium dan Strontium. Pembuatannya sendiri melalui tekanan dan panas yang sangat tinggi. Bila Anda mencari pickup yang powerfull dengan dinamika yang lebar, maka pickup yang bermagnet Ceramic ini adalah untuk Anda. Karena Ceramic akan menghasilkan medan magnet yang jauh lebih hebat dibandingkan yang Alnico. Seymour Duncan memilih magnet ini untuk tipe pickup Duncan Distortion SH-6. Sedangkan DiMarzio menggunakan magnet ini untuk Super Distortion, X2N, dan Evolution.
- Coil Pada dasarnya, pickup terdiri dari dua komponen, yakni sebuah magnet dan gulungan kawat tembaga yang disebut coil. Gulungan ini akan melilit dengan jumlah ribuan kali pada masing-masing bobbin. Perbedaan antara besar bobbin, banyaknya jumlah gulungan, serta ukuran kawat tembaga yang digunakan juga akan memberi perbedaan pada hasil akhir unjuk kerja sebuah pickup. Gulungan yang lebih sempit dan lebih dekat pada pole pieces seperti yang banyak digunakan pada single coil-nya Fender, akan menghasilkan sound yang cenderung lebih treble. Sedangkan desain berbeda seperti model P-90 akan menghasilkan sound yang lebih Fat dengan respon mid-range yang lebih warm.
- Jumlah Lilitan Jumlah lingkaran kabel tembaga yang terlilit di sekitar kumparan juga akan mempengaruhi tampilan pickup dan tone keseluruhan gitar Anda. Sebuah pickup yang terlalu banyak memiliki lingkaran, akan punya tingkat output yang tinggi. Sebaliknya, pickup dengan lingkaran yang kecil akan menciptakan suara yang lemah dan tipis. Maka di sini kita perlu pintar-pintar mendapatkan pickup yang memiliki jumlah lingkaran yang pas, agar suara yang tampil bisa oke punya.
- Resistansi DC Panjang kawat dan jumlah lingkaran pada coil, masing-masing berperan penting dalam menentukan tingkat resistansi DC. Biasanya, kian tinggi resistansi DC, akan kian tinggi pula output dan akan kian rendah respon treble. Untuk single coil, tingkat resistansi DC biasanya berada di sekitar 6.5k untuk sebuah tone vintage, dan 15 k untuk sebuah tone ber-output tinggi. Untuk humbucker, resistansi DC-nya berkisar antara 7.5 k hingga 16.5 K.
- Output Millivolt Ada juga pabrikan pickup yang mengukur outputnya berdasarkan millivolt. Besarnya angka millivolt ini menandakan besarnya output. Makin besar dia, makin tinggi pula output-nya. Output yang besar lebih disarankan untuk pickup yang akan digunakan pada posisi bridge. Alasannya adalah karena hebatnya getaran dawai akan kian berkurang semakin mendekati bridge, sehingga pickup beroutput besar akan mengkompensasikan hal itu. Pickup yang beroutput sama besar juga bisa bekerja dengan baik dalam sebuah gitar. Hanya saja yang ber-output besar lebih tidak disarankan untuk dipasang di posisi neck.
- Tone Guide Ada beberapa pabrikan pickup yang juga memberikan Tone Guide pada lembar spesifikasinya. Hal ini biasanya berupa besar kecilnya repro masing-masing rentang frekuensi. Hal ini akan sangat membantu kita dalam menentukan pickup pilihan kita, misalnya pada pickup Super Distortion-nya DiMarzio dengan tone guide, bass 8.0, Mid 7.5, dan treble 5.5. Ini akan menggambarkan pickup tersebut cukup bagus pada respon low-end-nya, cukup hanya di sesi mid-range, namun agak dark di respon treble-nya.
- Cara Memilih Menentukan pilihan memang memerlukan sangat banyak pertimbangan. Dengan berbagai point yang sudah dibahas di atas, memilih pickup-nya harusnya sudah menjadi jauh lebih mudah. Dalam memilih pickup, yang pertama harus ditentukan adalah model yang diinginkan. Apakah single coil atau humbucker? Lalu tetapkan tone yang Anda inginkan. Apakah akan lebih banyak bermain di frekuensi rendah, seperti power chord dan modern rock, atau yang lebih bright? Kalau sudah dapat, barulah tentukan output yang diinginkan. Output yang lebih besar akan menentukan seberapa besar kadar distortion yang bisa dihasilkannya. Output yang besar juga biasanya menyebabkan respon treble-nya makin berkurang. Hanya saja hal ini masih bisa diatasi dengan knob “Treble” pada amplifier atau efek Anda. Sudah jauh lebih sederhana bukan? Masalahnya sekarang adalah bagaimana mendapatkan informasi yang akurat seputar spesifikasi pickup tersebut? Memang kebanyakan toko alat musik di Indonesia ini memang agak “pelit” dalam membagikan katalog dari masing-masing produknya. Paling-paling kita hanya mendapatkan brosur yang biasanya hanya berupa selebaran yang tidak memuat data lengkap tentang pickup tersebut. Parahnya lagi, kadang kita cuma mendapatkan selebaran poster A4 yang hanya terdapat gambar si gitaris dengan merek pickup yang dia gunakan, padahal yang kita butuhkan lebih dari sekedar poster. Solusinya adalah dengan mengunjungi sistus resmi dari masing-masing pabrikan pickup tersebut. Bisa dipastikan bahwa semua data seputar spesifikasinya bisa kita dapat di sana. Kalau Anda beruntung, ada juga situs yang menyertakan file MP3 yang menperdengarkan contoh sound-nya.
Beberapa istilah PICKUP
- Transducer
- Trembucker atau F-Space
- Pickup aktif
- Pickup Pasif
- Kalibrasi, Set Kalibrasi
- Resistansi D.C
- Wiring Empat Konduktor
- Hum Canceling, Humbucker
- Impedansi
- Milivolt
- Ohm
- Phase
- Out of Phase
- Wiring Paralel
- Polaritas
- Pole Pieces Non Magnetik
- Pole Pieces Magnetik
- Peak Resonan
- RW/RP
- Wiring Seri
- Splitting, Split pickup
- Stack
- Wax Potting
Permasalahan di Monitor
Monitor Panggung
Artikel ini terinspirasi dari obrolan dengan seorang rekan saya yang juga musisi (mungkin beliau juga baca artikel ini…he..he…) rekan saya tersebut, bingung waktu melihat persiapan sebuah konser artis nasional di daerah kami. Saat itu, rekan saya tersebut melihat ada salah seorang kru di panggung membawa sebuah mic wireless dan mendekatkan mic tersebut ke speaker monitor panggung, dan sesekali mengibas-ngibaskan mic tersebut di dekat speaker monitor tersebut. pertanyaannya : “ngapain tu orang???” he.he..he..he…
Ini bro, aku jelasin lebih dalam sebatas yang aku tau, dan mudah-mudahan bermanfaat untuk semua yang baca artikel ini.
Yang di lakukan kru/engineer tersebut adalah memaksa speaker monitor sampai feedback, kegiatan ini biasa di sebut RINGING OUT. Kenapa di paksa??? Oya, sebelumnya feedback itu (biasanya di beberapa daerah dan masyarakat awam bilangnya “storing”) kurang lebih akan terjadi apabila satu rantai sinyal input dan output yang bertabrakan berulang-ulang/bolak balik secara kontinu.
Monitor tersebut di paksa feedback agar monitor engineer dapat melakukan setting equalizer (eq) untuk speaker monitor yang di paksa tersebut. monitor engineer yang udah profesional, biasanya akan tau eq frekuensi mana yang harus di cut/boost untuk menghilangkan feedback tersebut. atau bisa juga di ukur menggunakan RTA (Real time Analyzer), ntar deh di bahas detail tentang RTA ini
Kenapa eq??? Ya eq inilah salah satu senjata handal untuk mengusir feedback dari panggung, dengan cara memotong (cut) atau menambah (boost) beberapa frekuensi yang sekiranya di anggap penyebab feedback tersebut.
Setelah setting eq tiap monitor di dapat, kembali monitor tersebut di cek. Seorang kru biasanya akan mengetes dan memaksa sebuah mic sedekat mungkin di sekitar speaker monitor dan mengecek apakah masih terjadi feedback. Pada saat inilah biasanya kru melakukan aksi kibas mengibas microphone :- ) Kenapa kesannya rumit sekali mengurus si monitor panggung ini???
Inilah penyebabnya : Artis dan pemain musik yang berada di panggung, jarang yang peduli bagaimana bunyi spekaer utama (yang menghadap ke penonton). Tetapi sebaliknya, mereka sangat cerewet untuk urusan speaker monitor. Karena dari speaker di panggung inilah mereka bisa memonitoring permainan musik atau nyanyian mereka agar bisa di sajikan dengan baik. Jadi jangan anggap sepele dengan monitor panggung ini. Karena Anda lebih fokus dan berkonsentrasi ke speaker utama, jangan sampai pada bagian monitor, ada kesan “yang penting ada!!!”, ga peduli bgmn kualitasnya atau gimana settingannya, yang penting ada (tepatnya…”asal ada” he..he..he…). Kenapa harus benar-benar di perhatikan, karena dari monitor inilah penentu bagaimana performance/penampilan pemain dan artis Anda di sebuah event. Jadi beri perhatian serius untuk hal monitor ini. Lho, hubungannya dengan kibas mengibas mic tadi apa?? He.h.e…he..! mendekatkan/mengibas-ngibaskan mic ke monitor tersebut untuk mengetes apakah masih ada feedback ketika mic dekat dengan monitor. Ini berguna agar penampilan musisi khususnya penyanyi tidak terganggu saat penampilan. Mau nyanyinya dekat dengan speaker monitor, mijak monitor, meluk monitor, ga masalah, penyanyi harus bisa sebebas mungkin bergerak tanpa harus takut nanti ada feedback. Untuk Anda yang bergerak di Organ Tunggal (ortung), apalagi di daerah kecil seperti kami di Kerinci, mungkin akan kewalahan, apalagi panggung yang di temui sering berukuran kecil, dan semuanya serba merapat, serba dekat dan serba sempit. Cara yang mungkin terbaik untuk setting monitor di panggung yang sempit adalah : - Jangan gunakan terlalu banyak monitor, gunakan secukupnya. Satu monitor mono untuk pemain keyboard dan satu lagi agak di bibir panggung untuk penyanyi, sepertinya udah cukup. - Atur posisi speaker senyaman mungkin untuk posisi pemain dan penyanyi. Misal, biasanya speaker monitor untuk pemain keyboard di tarok di lantai, coba akali dengan memberi dudukan untuk speaker monitor tersebut agar lebih tinggi. Usahakan sama tinggi dan searah dengan telinga si pemain, jangan terlalu jauh. Kenapa begitu? Ini mengantisipasi agar pemain bisa memonitor dengan optimal, dan volume untuk monitor tersebut bisa di set tidak terlalu kuat. Ini bisa meminimalisir suara yang beredar di panggung. - Untuk vocal, sebaiknya yang di tarok di lantai, bentuk speakernya yang segitiga. Arahnya menghadap ke penyanyi, tapi di belakang microphone yang di pegang si penyanyi. Ini juga bisa meminimalisir feedback.
Untuk setting monitor di setiap pemain atau penyanyi bisa berbeda-beda. Misal : Si pemain keyboard, tidak butuh mendengar keyboardnya terlalu kuat di speaker monitor, karena dia juga bisa mendengarkan keyboardnya dari speaker internal keyboard, tapi sebaliknya si pemain keyboard butuh vocal penyanyi lebih keras di speaker monitornya agar bisa mengiringi penyanyi dengan baik. Si penyanyi ingin mendengar keyboard sedikit lebih kuat di speaker monitornya. Lah, bagaimana cara settingnya????? He..he…he…
Caranya begini. Mixer biasanya telah di sediakan beberapa AUX. Biasanya di gunakan untuk efek. Nah Aux inilah yang kita jadikan untuk menyetel masing-masing monitor. Misal :
AUX 1 untuk Monitor Pemain Keyboard
AUX 2 untuk Monitor Penyanyi
Channel 1 untuk microphone vocal / penyanyi
Channel 3 untuk keyboard
Speaker monitor ada dua unit :
1 speaker monitor pemain keyboard, posisinya di dekat pemain keyboard
1 speaker monitor penyanyi, ada di depan penyanyi atau di bibir panggung dan menghadap ke penyanyi ( dibelakang microphone)
Asumsi kedua speaker monitor menggunakan speaker aktif.
konektor output AUX 1 pada mixer di hubungkan ke input speaker monitor pemain keyboard. Output AUX 2 ke input speaker monitor penyanyi.Cara penyetelan :
- Atur level dan gain tiap channel secukupnya (atau maksimal sampai 0dB di lampu indikator mixer)
- Setelah semua channel udah di atur level dan gainnya, baru atur Auxnya.
- Atur level master AUX. Coba di arah jam 10 atau 12.
- Posisi putaran Master aux di mixer adalah yang terpisah dari deretan channel.
- Semua deretan/putaran AUX 1 tiap channel adalah untuk setting output di speaker monitor pemain keyboard.Kalau pemain keyboard ingin suara vocal di kencangkan di monitornya, berarti Anda tinggal menaikkan Aux 1 di channel 1 (vocal), kalau dia minta suara keyboardnya di kecilin di speaker monitornya, berarti AUX 1 di channel 3 (keyboard) di kecilin.
- Semua Deretan/putaran AUX 2 tiap channel adalah untuk setting output di speaker monitor penyanyi.Kalau penyanyi minta suara keyboard agak di kencangin di monitornya, berarti Anda tinggal memutar/menambah level putaran Aux 2 di channel 3. Kalau penyanyi minta suara micnya di kecilin atau di besarin di speaker monitornya, berarti Anda tinggal memutar putaran AUX 2 di Chanel 1. Begitu seterusnya.
- Kalau pemain keyboard udah merasa perbandingan volume keyboard dan vocal di speaker monitornya udah pas, tapi minta volume speaker monitornya di naikkan, berarti Anda cukup memutar dan menambah level putaran MASTER AUX 1. Begitu juga untuk monitor penyanyi di MASTER AUX 2.
- Begitu seterusnya.
Jadi secara sederhana, AUX bisa di ibaratkan Mixer di dalam mixer. Untuk organ tunggal sederhana, 2 Aux untuk monitor, rasanya udah cukup.
Tapi kalau untuk Band atau orkestra, wah sangat kurang. Makanya pada konser-konser besar, mixer monitor, biasanya di tarok di samping panggung, ukurannya juga “raksasa”, karena selain fitur lain, jumlah AUX yang banyak juga sangat di butuhkan. Aux yang banyak ini untuk memenuhi selera masing-masing pemain. Misal, pemain drum ingin suara gitar bass lebih kencang, pemain Bass minta suara kick drum lebih kuat, pemain gitar ingin suara gitarnya lebih kuat, pemain keyboard Cuma ingin dengar suara penyanyinya aja karena suara penyanyinya menggoda…he..he…. ya.. dengan aux yang banyak di mixer “raksasa” tersebut, semuanya bisa di setting secara individu.
Untuk menghilangkan feedback, ya di gunakan equalizer setelah output Aux baru ke speaker. Atau pada mixer yang gede, udah disediakan colokan Insert di masing-masing master aux. Untuk menyetel si eq tersebut, kita benar-benar harus terlatih untuk mengenal dan mendeteksi 31 frekuensi yang menyebabkan feedback tersebut. atau ada cara lain dengan bantuan RTA. Ntar aja deh di bahas…. Tunggu saya nuntut ilmu dulu, karena pembahasan yang ini pasti akan sangat memusingkan.
Oya, untuk yang menggunakan speaker pasif, output si AUX tadi di masukkan ke power amp dulu, baru di teruskan ke speaker.
Kesimpulannya :
- Jangan anggap sepele soal monitor ini, karena disinilah penentu performa si pemusik dan si penyanyi.
- Minimalisir suara yang beredar (volume speaker monitor) di panggung tapi harus tetap jelas di dengar oleh si pengguna monitor tersebut. agar mengurangi kemungkinan penyebab terjadinya feedback.
- Usahakan speaker utama (yang menghadap penonton) agak jauh dari panggung dan di posisikan sedikit di depan panggung. Ini juga bisa meminimalkan penyebab feedback.
- Dengan setting mixer yang saya jelaskan di atas, apabila tetap terjadi feedback, jangan mengecilkan volume/level channel atau master out mixer, karena bisa mengganggu yang di dengar penonton, tapi cukup mengecilkan MASTER AUX atau mengecilkan AUX di chanel yang mungkin menyebabkan feedback.