Kabel Audio

Konektor

XLR Pin Assignment 1 Chassis ground (cable shield) 2 Normal polarity ("hot") 3 Inverted polarity ("cold")
TRS Connector 1. Sleeve: usually ground 2. Ring: Right-hand channel for stereo signals, negative phase for balanced signals 3. Tip: Left-hand channel for stereo signals, positive phase for balanced signals 4. Insulating rings

RCA "Phono" or S/PDIF

MIDI Connectors

Optical Connectors

Anda biasanya akan menemukan jenis berikut konektor pada peralatan Studio Recording: konektor XLR digunakan terutama untuk audio balance dan / AES EBU sinyal digital. tidak semua, mikrofon menggunakan jenis konektor. Audio Interface , Audio Efek dan Efek Prosesor juga menggunakan semacam konektor ini . Mereka dapat berdiri penyalahgunaan pertunjukan live di panggung dan jarang gagal. Beberapa versi dari konektor XLR memiliki pin Ground memanjang bahwa pasangan sebelum pin lainnya sehingga menghilangkan transien kekerasan yang disebabkan oleh mikrofon , misalnya, ketika mereka terhubung ke peralatan yang sensitif !

kabel XLR male untuk female.

1 / 4 "Jack tersedia di TRS (Tip, Ring, dan lengan) jenis untuk aplikasi balance atau stereo. TS (Tip, Sleeve) jenis digunakan untuk aplikasi yang unbalance dan mono. Sebuah kabel gitar adalah contoh umum dari ¼ "TS konektor. Dari segi kualitas audio pandang, ada perbedaan yang sangat sedikit antara XLR dan konektor TRS. TRS Konektor juga ditemukan pada Peralatan Recording, Audio Equipment, Efek Prosesor dan Signal Prosesor. Headphone menggunakan jack TRS sebagai konektor stereo yang sleeve adalah landasan bersama, ujungnya saluran kiri dan cincin adalah saluran yang tepat. Kabel jenis ini biasanya datang dalam male untuk versi male.

Konektor RCA digunakan untuk aplikasi audio dan digital. Untuk audio, mereka digunakan terutama pada peralatan konsumen, walaupun anda mungkin akan melihat ini digunakan untuk Tape Dalam / Tape Out konektor pada mixer Anda. Untuk aplikasi digital, mereka adalah standar S / PDIF konektor.

konektor RCA biasanya hanya tersedia male untuk versi male.

The MIDI standar konektor pin konektor 5 DIN dan digunakan untuk MIDI In, MIDI Out dan MIDI Melalui port. Baru-baru ini, MIDI konektivitas juga sedang dilaksanakan dengan menggunakan konektor USB interface.

Kabel MIDI umumnya hanya tersedia di versi laki-laki untuk laki-laki.

Optical I / O konektor muncul pada gigi paling tinggi akhir audio. Konektor dan kabel jauh lebih kecil daripada semua yang lain dan konektor menyerupai sebuah kubus plastik kecil.

Optical I / O kabel hanya tersedia dalam laki-laki untuk versi laki-laki.

Neutrix Combo Konektor adalah pengenalan yang lumayan baru yang menggabungkan XLR dengan koneksi TRS di konektor betina yang sama. Ini menjadi sangat populer dengan peralatan yang lebih tinggi pertunjukan, khususnya antarmuka audio.

. Kombinasi Neutrix konektor hanya tersedia sebagai socket female(input).

Pemasangan kabel Berikut aturan pertama dari kabel audio - jika peralatan audio Anda memiliki input balance dan / atau output, selalu menggunakan konektor ini. Ini mungkin pendekatan yang lebih mahal yang kabel tidak seimbang, tapi kualitas audio yang superior dan kekebalan dari kebisingan sangat layak biaya ekstra. Saya juga mengharapkan untuk menambah secara signifikan biaya ini saat saya memutuskan untuk meng-upgrade. Salah satu manfaat perencanaan yang baik dan menciptakan diagram pengkabelan studio rekaman rumah Anda dari awal adalah bahwa Anda akan memiliki ide yang sangat baik berapa banyak kabel yang Anda butuhkan, apa konektor perlu, dan berapa lama mereka akan . Dengan informasi ini, anda dapat menegosiasikan harga yang layak dan membeli kuantitas. Plus, tentu saja, Anda akan memiliki catatan permanen persis bagaimana Anda kabel studio rekaman rumah Anda di tempat pertama! Anda mungkin juga mempertimbangkan untuk membuat kabel sendiri - ini adalah jauh lebih efektif dalam biaya , terutama jika Anda cukup mahir dengan solder. Jika tidak, Anda mungkin ingin mempertimbangkan mencari orang yang bisa melakukan pekerjaan semacam ini, masih akan lebih murah daripada membeli kabel siap pakai. kabel balance baik kualitas tidak yang mahal dalam jumlah besar, baik yang konektor berkualitas baik. Jika Anda menyolder sudah oke, anda akan memiliki pengetahuan bahwa Anda memiliki kualitas kabel yang baik. Keuntungan lain adalah bahwa Anda bisa membuat custom panjang, dan kombinasi konektor yang tidak biasa.

Pick up ( Gitar )

Pick up atau sering disebut spul gitar, adalah sebuah transduser elektronika yang mengubah getaran dawai gitar menjadi sinyal listrik. Prinsip dasarnya adalah induksi elektromagnet, yang mana getaran senar “mengganggu” garis-garis gaya elektromagnetik. Perubahan ini menghasilkan Gerak Gaya Listrik yang berupa sinyal sinusoidal listrik. Bentuknya disesuaikan dengan gitar yang menggunakannya atau dari produsen pembuatnya, namun umumnya pick up berbentuk persegi panjang, atau model tertentu. Seperti apakah pickup itu ? Pick up adalah sebatang magnet yang mempunyai kemagnetikan yang kuat seperti alnico atau magnet biasa, dibaluti dengan ratusan gulung kawat email berdiameter kecil dengan arah medan magnet menghadap ke arah senar. Biasanya hanya dibuat satu (single), tetapi ada pula yang dibuat sepasang, baik itu berpasangan maupun bertindihan (hamburck) dengan tujuan-tujuan tertentu. namun pada dasarnya adalah transduser listrik. Pick up merupakan awal dari sebuah rangkaian tata suara dalam gitar elektrik, sehingga membuat hasil kerja Pick up menjadi kritis untuk keseluruhan performa dari sistem suara yang didapat. Kejernihan sebuah Pick up menghasilkan representasi listrik dari suara yang dicupliknya. Hal ini diperoleh dengan berbagai macam metoda yang digunakan. Dahulu, sejumlah metode dipergunakan untuk berbagai keperluan, dan sekarang begitu banyak jenis Pick up yang ditemukaan dalam berbagai keperluan. Pemilihan Pick up yang lebih hati-hati akan mencegah terjadinya pengurangan kemampuan Pick up dari performa maksimal. Pemilihan Pick up yang baik tergantung dari pengetahuan akan karakteristik dasar Pick up dan pengertian dalam mengaplikasikannya. Supaya efektif, Pick up yang digunakan harus seimbang antara sumber suara yang ingin dicuplik (suara senar guitar, alat musik, dll.) dan sistem tata suara yang digunakan (sound system untuk live music, alat perekaman, dll). Lima karakteristik dasar dari sebuah Pick up yang harus diperhatikan ketika memilih sebuah Pick up untuk berbagai keperluan, yaitu:
  1. Prinsip dari cara kerja pick up gitar.
  2. Daerah respon frekuensi kerja yang dicuplik oleh pick up
  3. Arah/sudut pengambilan sinyal dari pick up
  4. Keluaran sinyal listrik yang dihasilkan oleh pick up
  5. Bentuk fisik dari pick up
Karakteristik Pick up dibagi menjadia tiga :
  1. Karakteristik Statis.Karakteristik statis adalah hubungan dalam keadaan steady – state antara besaran fisik input dan output elektrik. Karakteristik statis terdiri dari : - Accuracy, adalah perbedaan antara true output dan actual output. - Resolusi, adalah perubahan input yang paling kecil yang masih bisa dideteksi oleh Pick up - Repeatability, adalah kemampuan Pick up untuk menghasilkan output yang sama pada pengukuran yang sama berulang kali. - Hysteresis, adalah perbedaan antara kalibrasi dengan cara naik dengan kalibrasi dengan cara turun. - Linearity, adalah linieritas output dari transduser. - Conformance, adalah perbedaan antara kurva hasil kalibrasi dengan suatu kurva linier. - Sensitivity, adalah perbandingan perubahan output dengan nilai perubahan dari pengukuran.
  2. Karakteristik Dinamis.Karakteristik dinamis adalah seberapa cepat suatu output berubah ketika mendapat perubahan pada input. Karakteristik dinamis terdiri dari : - Rise time, adalah waktu yang dibutuhkan agar dapat mencapai 10 % hingga 90 % dari respon seluruhnya. - Time constant, adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai 63.2% dari harga maksimum. - Dead time, adalah perbedaan waktu antara input dan output. - Settling time, adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kurang lebih 2% dari nilai steady state.
  3. Karakteristik Lingkungan. Karakteristik lingkungan adalah performa dari suatu Pick up, baik ketika beroperasi maupun tidak, terhadap kondisi external. Misalnya suhu, tekanan, getaran, kecepatan, dan lain lain
Pick up Aktif Beberapa hal yang membedakan Pick up aktif dengan Pickup pasif yakni Pickup aktif membutuhkan penguat yang berdekatan dengan pickup itu sendiri, sehingga penguat sinyal getaran yang ditangkap oleh pickup itu sendiri langsunng diterima penguat pertama atau yang sering dinamakan Pre Amp (Penguat sebelum Amplifire). sehingga getaran yang ditangkap pickup untuk menjadi sinyal listrik akan lebih besar berkisar antara 100 sampai 500 kalilipat (tergantung model preamp yg dipakai). untuk selanjutnya di transmisikan kejalur pengkabelan, sehingga noise yang ditimbulkan akan bisa lebih ditekan. dalam aplikasinya. preamp merupakan rangkaian elektronik yang memerlukan sumber listrik, maka dalam gitar yang terpasang pickup aktif dipasang juga sumber listrik berupa batery kotak berukuran 9 Volt DC. sedangkan pickup pasif hanya berupa tranduser atau penangkap getaran yang langsung di salurkan pengkabelan. sehingga sinyal-sinyal yang ditangkap AMPLI atau FX akan banyak mengandung noise yang bisa ditimbulkan oleh kabel yang dipakai. kabel bisa menjadi masalah yang serius dalam sistem transmisi sinyal suara ini. seibarat air yang mengalir di pipa yang pecah atau berlubang, maka air itu akan muncrat ksana sini dan akhirnya tempat yang dituju sudah ga sekuat semburan dari sumbernya. sering kita mengatakan bahwa memakai pickup aktif akan lebih nendang dari pada pickup pasif.. ni karena sinyal listrik yang disalurkan lebih besar atau arus gelombang suaranya lebih besar sehingga noise bisa ditekan dan sipenerima AMPLI atau FX dapat menerima sinyal tersebut lebih baik atau tidak loyo dan selanjutnya diolah menjadi suara atau sound yang dinginkn. akan tetapi memakai pickup aktif juga harus memperhatikan berbagai aspek yang harus diperhatikan..

Speaker Management System

Peralatan berikutnya yang paling vital adalah crossover. Sesuai dengan namanya, alat ini digunakan untuk memisahkan frekuensi rendah, menengah atau tinggi atau bila diaplikasikan pada speaker alat ini memiliki beberapa varian seperti:
  • 2-way crossover artinya alat ini hanya memisahkan frekuensi low dan high saja
  • 3-way crossover artinya alat ini memisahkan frekuensi low, mid dan high
  • 4-way crossover artinya alat ini memisahkan frekuensi low, low mid, high mid dan high atau frekuensi sub, low, high dan super high.
Semakin banyak pemisahan sinyal maka frekuensi yang tercacah akan semakin detil dan secara otomatis akan memerlukan lebih banyak power amp yang dipakai untuk men-drive speaker yang dimaksud. Pada era digital ini, analog crossover lebih jarang dipakai untuk keperluan yang lebih rumit. Banyak yang lebih menggunakan digital crossover yang memiliki fitur yang lebih lengkap selain fitur crossovernya sendiri, diantaranya fitur compressor/limiter, ekualisasi baik yang grafik atau yang parametrik, delay alignment dan lain-lain. Untuk itu sering digunakan istilah LMS atau Loudspeaker Management System sebagai pengganti istilah crossover. Perhatian!!! Perhatikan spesifikasi speaker sebelum melakukan setting crossover, agar tidak terjadi speaker blow-out atau putus Mungkin timbul satu pertanyaan yang sering kita jumpai, “Apakah memang dalam sebuah sistem diperlukan sebuah crossover?” Jawabannya adalah tergantung dari sistem itu sendiri. Bila sistem yang kita pakai adalah sebuah sistem yang hanya terdiri dari 2 box speaker yang masing-masing box terdiri dari 1 unit loudspeaker 15” dan 1 unit loudspeaker 1”/2”, sebuah mixer console dan beberapa mic, maka jawaban dari pertanyaan di atas adalah tidak perlu dipakai sebuah crossover karena biasanya dalam sistem speaker tersebut sudah terdapat crossover pasif yang tertanam dalam sistem speaker tersebut. Bila jenis speaker yang digunakan lebih kompleks dari sistem sederhana yang telah disebutkan di atas, misal terdapat 2 box speaker yang berisi 2 unit loudspeaker 18” dan 2 box speaker yang berisi masing-masing loudspeaker 15” dan 1 unit loudspeaker 1”/2” maka jawaban dari pertanyaan di atas adalah sangat diperlukan pemakaian sebuah crossover. Lalu timbul lagi pertanyaan yang lainnya, “Mengapa crossover diperlukan untuk sebuah sistem yang lebih rumit?” Jawaban yang dapat diberikan adalah karena masing-masing komponen speaker memiliki kapasitas frekuensi yang berbeda-beda, seperti:
  • Komponen loudspeaker yang berukuran 18” atau 15” biasanya dipakai untuk SUB atau LOW speaker
  • Komponen loudspeaker berikutnya yang berukuran 15”, 12” atau 10” biasanya dipakai untuk LOW MID atau MID speaker
  • Sebuah compression driver yang berukuran antara 1” – 2” dan sebuah horn dipakai untuk HIGH MID atau HIGH speaker
Bila sebuah crossover tidak dipakai dalam sebuah sistem sedangkan pada sistem tersebut terdapat 3 jenis komponen speaker tersebut maka yang terjadi adalah suara yang dihasilkan tidak dapat terdefinisi dengan baik atau bahkan akan mengakibatkan terjadinya speaker blow-out alias putus. Salah satu alasan logis yang dapat dijadikan acuan adalah loudspeaker yang berukuran 18” tidak didesain untuk menerima frekuensi tinggi dan demikian dengan compression driver yang secara ukuran lebih kecil, tidak didesain untuk menerima frekuensi rendah. Oleh karena itu, dalam membangun sebuah sistem tata suara yang baik, salah satu pertimbangan yang perlu kita lakukan adalah pada saat instalasi sistem tersebut adalah saat pemasangan kabel speaker pada power amp dan proses setting dari crossover itu sendiri. Satu kesalahan yang terjadi pada saat proses instalasi maka akan mengakibatkan terjadinya kerusakan seluruh sistem yang dapat merugikan kita secara materi. Alat berikutnya adalah power amp atau yang lebih dikenal sebagai amplifier. Alat ini dipakai untuk men-drive sebuah atau beberapa speaker sekaligus. Beberapa pabrikan yang memproduksi alat ini selalu mencantumkan kapasitas yang dapat dipakai untuk men-drive sebuah speaker, seperti contoh sebuah power merek X dalam tabel berikut:

Tabel 1.1:

8 Ω

4 Ω

2 Ω

Load impedance

280 W

450 W

650W

Arti dari tabel di atas adalah sebagai berikut:

  1. Power amp tersebut memiliki kapasitas impedansi transfer daya maksimum sebesar 2 ohm yang dapat men-drive speaker dengan daya sebesar 650 WPada impedansi minimum sebesar 8 ohm, speaker yang dapat di-drive oleh power amp ini sebesar 280 W. Berarti jika impedansi speaker sudah sesuai dengan impedansi minimum yang ditransfer oleh power amp maka speaker yang dipasang pada power ini setidaknya berkapasitas 280 W dengan toleransi ± 20% dari kapasitas power amp.
  2. Bila kapasitas speaker terlalu berlebihan dari kapasitas power amp maka yang terjadi adalah under powered, yang dapat mengakibatkan power amp blow-out atau bahkan dapat mengakibatkan speaker juga putus. Demikian juga sebaliknya, jika kapasitas speaker lebih kecil dari kapasitas power amp maka yang terjadi adalah over powered, yang juga dapat mengakibatkan speaker putus atau power amp terjadi blow-out.
Perhatikan!! Karakteristik suara yang dihasilkan antara impedansi 8 ohm, 4 ohm atau 2 ohm sangat berbeda. Dari contoh tabel di atas, daya yang dihasilkan oleh impedansi 4 ohm jauh lebih besar daripada impedansi 8 ohm. Demikian juga dengan impedansi 2 ohm. Menurut Fry, problem yang sering dihadapi oleh sebuah power amp adalah panas. Sebagai bukti, ketika power amp sedang beroperasi, yang kita temui adalah panas. Kadang menjadi sangat panas. Ketika power amp berfungsi pada impedansi 8 ohm maka terjadi panas yang dihasilkan secara elektronis, sedangkan apabila berfungsi pada impedansi yang lebih kecil (seperti 4 ohm atau ekstrem 2 ohm) maka panas yang terjadi lebih besar daripada ketika power amp ini berfungsi pada impedansi 8 ohm. Oleh karena itu, dalam sebuah power amp yang baik biasanya disertakan fan pendingin yang sangat berkualitas ditambah dengan komponen-komponen elektronis yang lebih rumit hanya untuk “mengurangi” panas yang ditimbulkan oleh power amp tersebut. Speaker Monitor Jenis speaker yang lain, berdasarkan aplikasi dan penempatannya, adalah speaker monitor. Biasanya speaker ini diletakkan di atas panggung untuk membantu semua yang berada di panggung agar suara yang mereka hasilkan dapat terdengar dengan baik tanpa gangguan. Yang penting dari aplikasi speaker ini adalah keras dan jelas.

Bagian Mixer Analog

Istilah kerennya adalah mixer, yaitu sebuah alat yang mengumpulkan semua sinyal baik dari mic, sinyal line (berupa sinyal dari tape/CD, atau dari instrumen), semua efek (berupa echo, reverb, delay), kemudian “dicampur” secara otomatis oleh alat ini menjadi satu sinyal yang utuh dan kemudian didistribusikan ke power amplifier yang akan diolah sedemikian sehingga akhirnya sinyal ini diubah wujudnya menjadi suara yang dikeluarkan oleh speaker yang terpasang. Alat ini juga memiliki kemampuan untuk mengubah level dari sinyal tersebut, seperti dari sinyal yang keras menjadi lebih pelan dan demikian sebaliknya sehingga sinyal-sinyal ini “tertata” dengan baik dan terdengar dengan nyaman. Kemampuan ini tidak bersifat otomatis secara mesin, tapi tergantung dari kemampuan sang pengatur suara, yang dalam hal ini sering disebut engineer atau sound engineer. Seperti yang telah disebutkan di paragraf kedua, jumlah channel yang tersedia pada sebuah mixer bervariasi. Mulai dari yang sederhana sebanyak 6 atau 8 channel bahkan sampai ratusan channel sekaligus. Dari beberapa klasifikasi tersebut dapat disimpulkan menjadi 2 jenis mixer, yaitu analog mixer yang biasanya terdiri dari maksimum 52 channel dan digital mixer yang memiliki jumlah channel yang dapat dikatakan “tidak terbatas”. Untuk spesifikasi detil dari kedua jenis mixer ini dapat dilihat dari beberapa merek yang telah beredar di pasaran umum. Bagian-bagian dari sebuah mixer analog secara umum adalah: 1. Mono Input Section Bagian-bagian dari mono input ini terdiri dari:
  • Mic Input, atau sering juga disebut XLR input atau cannon jack input. Bagian ini digunakan untuk mic atau alat-alat yang menggunakan jack yang memiliki tiga buah “kaki” atau yang yang sering disebut cannon jack. Biasanya masing-masing “kaki” terdapat nomor 1, 2, dan 3. Kaki-kaki ini dimaksudkan untuk penempatan posisi sinyal positif, negatif dan ground (tipikal yang sering digunakan adalah kaki 1 – ground, kaki 2 – positif, dan kaki 3 – negatif).
Catatan: posisi di atas tidak selalu menjadi patokan, tergantung dari peralatan yang dipakai. Harap selalu memperhatikan buku manual dari peralatan yang dipakai.
  • Line In, yang biasanya digunakan untuk menancapkan peralatan yang menggunakan line level jack (istilah umum yang sering beredar adalah input jack gitar). Peralatan yang sering menggunakan bagian ini seperti keyboard, tape, CD player, effect processing unit (reverb, echo, dll), kadang-kadang bass atau gitar juga memakai bagian ini.
  • Insert Point. Pada beberapa mixer yang lebih kompleks maka terdapat 2 bagian yaitu insert send dan insert return, tetapi pada mixer yang sederhana maka bagian ini hanya ada satu saja yaitu insert I/O (kepanjangan dari insert input/output). Bagian ini digunakan untuk menghubungkan sinyal prosesor eksternal seperti EQ, compressor/limiter/gate. Tujuan dari bagian ini adalah membuat seakan-akan sinyal prosesor eksternal menjadi satu kesatuan dengan mixer.
Catatan: Perhatikan cara penyolderan!!! Untuk mixer yang memiliki insert point terpisah maka penyolderan dilakukan sama persis dengan cara penyolderan cannon jack. Dalam hal ini: posisi tip – sinyal positif, ring – sinyal negative, sleeve – sinyal ground, apabila hanya terdapat satu insert point I/O, maka posisi tip – sinyal send, ring – sinyal return, sleeve – sinyal ground.
  • Direct Out (Dir). Bagian ini sering digunakan untuk mengirim sinyal audio secara langsung untuk direkam pada multitrack recording tape.
  • Gain, yang juga disebut input level atau trim, yang berfungsi untuk menentukan sensitifitas dari input sebuah sinyal yang masuk, baik itu berupa sinyal mic atau sinyal line (dari keyboard, tape, CD player, atau alat musik yang lain). Bagian ini hanya mengatur tingkat kesensitifitasan dari channel tersebut bukan besarnya volume sinyal.
Catatan: Apabila sinyal yang masuk masih terlalu kecil (volume sudah dimaksimalkan, demikian juga dengan gainnya) maka yang perlu diperiksa adalah kondisi dari kabel tersebut dan kondisi penyolderan dari kabelnya, terbalik atau putus atau malah tidak tersolder sama sekali.
  • HPF (High Pass Filter). Bagian ini digunakan untuk memotong frekuensi rendah yang terlalu berlebihan atau peralatan yang mengakibatkan humming. Bagian ini sangat efektif digunakan pada situasi live, untuk mengurangi “popping” pada mic, atau memotong frekuensi rendah yang sering kali dijumpai pada jenis suara laki-laki. Pada beberapa mixer yang lebih kompleks, terdapat knob variabel frekuensi yang akan dipotong (misal: 50 Hz atau 80 Hz atau 250 Hz dan seterusnya), sedangkan pada mixer yang lebih sederhana hanya terdapat knob, seperti knob on/off, yang biasanya tercantum frekuensi 100 Hz atau sering disebut dengan fixed HPF.
  • EQ section. Bagian ini sering dipakai untuk mengatur kualitas suara yang diinginkan. Pada prinsipnya bagian ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu low, mid, dan high. Tipe ini sering dijumpai pada mixer yang sederhana bahkan ada yang hanya terdapat 2 bagian saja yaitu low dan high, tetapi pada mixer yang lebih kompleks maka sering dijumpai penambahan seperti Q dan frekuensi yang ingin di-cut atau di-boost.
  • Aux section. Ada 2 fungsi utama dari bagian ini, yaitu sebagai pengontrol monitor speaker yang terdapat di panggung utama dan atau pada masing-masing pemain band, dan sebagai pengontrol eksternal efek (reverb, echo, dll).
  • Pan (Panoramic Control). Bagian ini sering kali digunakan untuk menentukan posisi sinyal suara (kanan atau kiri) atau dipergunakan untuk menentukan channel tertentu masuk dalam sub grup tertentu (misal: channel 1 masuk dalam sub grup 1, channel 2 masuk dalam sub grup 2, dsb.)
  • Solo atau PFL. Bagian ini sering digunakan para engineer untuk mendengarkan sinyal suara secara individual melalui headphone. PFL adalah singkatan dari Pre Fade Listening yang berarti kita dapat mendengarkan suara tanpa terpengaruh oleh fader channel (before the fader), atau dengan bahasa sederhana kita dapat mendengarkan suara tanpa terpengaruh oleh besar kecilnya posisi fader.
  • Mute/On-Off switch. Bagian ini digunakan untuk mematikan atau menyalakan fungsi dari masing-masing channel.
  • Channel fader. Bagian ini menentukan besar kecilnya sinyal suara yang akan dikeluarkan melalui channel yang dimaksud.
  • +48V Phantom. Bagian ini digunakan bila digunakan mic condenser atau DI box yang memerlukan power sehingga alat-alat ini bisa berfungsi dengan baik.
Perhatikan!!! Pada tipe mixer tertentu, tidak dijumpai adanya bagian ini pada masing-masing channel. Yang ada adalah knob +48V Phantom master. Perhatikan juga jenis kabel yang akan tersambung!! Bila semua kabel berada pada posisi balanced maka tidak perlu dikhawatirkan akan terjadi sesuatu, tetapi bila tidak maka jangan sekali-kali menekan knob ini. 2. Stereo Input Section Sebagian besar bagian yang terdapat pada bagian ini hampir sama dengan bagian mono input kecuali pada bagian belakang mixer. Bila pada bagian mono input, pada bagian belakang mixer hanya terdapat satu channel input saja, tapi pada bagian stereo input terdapat dua channel input (berupa cannon jack atau phono jack atau RCA jack). 3. Master Section Pada bagian ini terdapat:
  • Aux Master, yang merupakan master volume dari aux pada masing-masing channel
  • Aux Return. Bagian ini memiliki kesamaan prinsip kerja seperti pada bagian Stereo Input Section
  • Master Volume Section
  • Sub Group Section/DCA/VCA Group. Bagian ini merupakan master group dari masing-masing channel yang telah dikelompokkan sedemikian rupa. Biasanya dipakai untuk memudahkan pengoperasian mixer, misal sub grup drum yang terdiri dari beberapa channel mic yang dipakai untuk drum.

Tips Untuk Membangun Sebuah Sistem Tata Suara Yang Baik

Rambu yang harus diperhatikan pertama kali adalah proses menyalakan atau mematikan sistem tata suara ini secara keseluruhan. Istilah yang dipakai adalah Last On, First Off. Bila sistem dalam kondisi mati maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
  1. Pastikan bahwa kondisi amplifier masih dalam keadaan off atau mati
  2. Nyalakan power dari mixing console dan rack efek seperti compressor/limiter, noise gate, EQ, effects processor dll
  3. Tunggu ± 5-10 detik, kemudian nyalakan amplifier satu per satu dengan jarak waktu ± 5-10 detik tiap amplifier
  4. Cek semua fungsi fan dan fungsi lainnya dari amplifier, apakah ditemukan kerusakan atau tidak.
Cara mematikan adalah membalik proses penyalaan sistem dari yang paling bawah. Pada pemakaian secara umum, volume gain pada amplifier sering ditempatkan pada level maksimum sedangkan volume level sistem keseluruhan dikendalikan dari mixing console kemudian dari crossover. Memelihara sebuah power amp:
  1. Sediakan tempat yang cukup lega agar sirkulasi fan amplifier tidak terganggu dan tidak mengakibatkan amplifier menjadi overheat
  2. Bila dirasa sirkulasi udara sekitar amplifier masih kurang maka dapat ditambahkan sirkulasi eksternal seperti ekstra fan atau AC
  3. Pastikan bahwa fan internal amplifier tetap berfungsi
  4. Bersihkan secara berkala fan dan filternya untuk menghindari overheat
  5. Cek dan mengencangkan semua koneksi secara rutin
  6. Bila fuse putus, segera gantikan dengan yang baru yang berkapasitas sama
  7. SELALU menghubungkan amplifier pada Ground
  8. SELALU memiliki power amp cadangan
  9. Usahakan penempatan amplifier berada pada tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung dan sejuk serta kering

Compressor & Gate

Peralatan berikutnya yang sering digunakan pada sebuah sistem tata suara adalah compressor/limiter/noise gate. Pada beberapa merek pembuat alat ini, ketiga jenis fitur ini dibuat terpisah antara compressor/limiter dan noise gate, tetapi ada juga yang dijadikan satu.Menurut Davis & Jones, pengertian compressor dan limiter adalah sinyal prosesor yang berfungsi mengurangi rentang dinamis dari sebuah sinyal. Limiter didesain untuk mengurangi peningkatan level input yang dapat menghasilkan peningkatan level output di atas threshold. Pengertian di atas memang sedikit rumit karena didasarkan pada teori yang sebenarnya dari fungsi compressor/limiter. Nah, pengertian yang sederhana dari compressor dan limiter adalah: “Basically what these do is keep an eye (or should that be ear?) on signal levels, stopping them from getting any louder than the level you set (the Threshold). A compressor puts a gentle “squeeze” on excess level, whereas a limiter hits it on the head with a hammer!”

Knob-knob fungsi yang terdapat dalam sebuah compressor/limiter adalah:
  • Threshold
Knob ini memiliki level yang bervariasi pada saat alat ini memulai untuk memodifikasi sinyal dinamik dari suatu sumber bunyi. Semakin kecil level yang diset untuk menentukan threshold (kurang dari 0 dB) maka suara akan semakin “mengecil” demikian pula sebaliknya.

  • Ratio
Knob ini menentukan seberapa sinyal yang akan “ditekan” pada saat mencapai threshold. Biasanya knob ini memiliki beberapa variasi mulai dari tanpa kompresi (1:∞), kompresi yang lebih soft ( 2:1 sampai 3:1), kompresi medium (3:1 sampai 6:1), kompresi yang lebih berat (6:1 sampai 8:1) dan hard limiting (10:1 sampai ∞:1). Cara membaca ratio yang lebih mudah seperti ratio kompresi 3:1, artinya input level sebesar 3 dB akan dikompresi sedemikian sehingga output level menjadi 1 dB. Karena suara akan lebih mengecil maka perlu disesuaikan output gain dari compressor/limiter yang digunakan untuk disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.

  • Output/Output Gain
Knob ini mengontrol output gain dari compressor yang dipakai. Sebagai contoh, apabila digunakan threshold yang rendah dan rasio sebesar 10:1, maka volume secara keseluruhan dari sebuah sinyal akan hilang. Untuk mengatasi hal ini maka knob ini digunakan untuk “menaikkan” volume yang “tertekan” tanpa harus merasa was-was sinyal yang akan dikeluarkan over. Perhatian!!! Jangan menaikkan output gain dari compressor lebih dari 3 sampai 4 dB di atas gain unity (0 dB) dari level mixer kecuali Anda memiliki kemampuan ekualisasi yang sangat baik.

  • Attack & Release
Knob attack berarti seberapa cepat compressor akan bereaksi untuk mengurangi sinyal dan knob release berarti seberapa cepat compressor akan bereaksi untuk kembali ke normal. Dalam bahasa yang lebih sederhana, knob attack berfungsi untuk mengukur seberapa cepat sinyal yang “tertutup” dan knob release berfungsi untuk mengukur seberapa cepat sinyal yang “terbuka” kembali.

Satu pertanyaan yang mungkin timbul dalam benak Anda, “Dimanakah alat ini diaplikasikan?” Compressor/limiter dapat dipakai di semua bagian dalam sistem tata suara terutama sebelum rangkaian pre-amp mic atau sebelum rangkaian power amp. Bila ditempatkan pada rangkaian sebelum pre-amp mic, maka aplikasi compressor/limiter berfungsi untuk melakukan kompresi pada sinyal yang berlebihan atau menaikkan sinyal yang terlalu “lemah” atau dapat membantu agar sinyal yang terdengar lebih tight atau punchy. Bila ditempatkan pada rangkaian sebelum power amp maka alat ini lebih banyak berfungsi sebagai limiter untuk melindungi rangkaian power amp dan speaker agar tidak menjadi berlebihan yang dapat mengakibatkan rusaknya rangkaian tersebut. Aplikasi yang terakhir lebih sering digunakan apabila pemakaian alat ini tidak terdistribusi secara rata per channel pada mixer/mic pre-amp. Memang diperlukan biaya yang tidak sedikit agar tiap channel dapat memakai aplikasi alat ini, karena kebanyakan alat ini hanya tercipta sebanyak dua channel bahkan satu channel saja.

Bisa dikalkulasi untuk pemakaian 16 channel mixer, akan dipakai sebanyak 8 unit dual compressor/limiter. Bila 1 unit dual compressor/limiter yang termurah seharga Rp 2.000.000,00 maka dapat dihitung berapa anggaran yang harus kita anggarkan. Untuk itu, beberapa pabrik pembuat alat ini menciptakan pula 4 channel compressor/limiter atau yang dikenal dengan nama Quad Compressor/Limiter. Pemakaian alat ini akan menghemat pemakaian unit barang yang akan dipakai, tetapi harganya pun tidak akan dapat menjadi lebih hemat bahkan akan menjadi lebih banyak.

Polar Pattren Microphone

Seorang yang ahli dalam bidang rekaman mengetahui seluk beluk tentang microphone baik secara teori maupun praktek. Dia juga memahami seni merekam dan seluk beluk studio broadcast berdasarkan pengalamanya dan akan terus belajar belajar tentang microphone sehingga mengetahui kegunaan microphone berdasarkan teknologi yang ada pada microphone.

Kepekaan antara satu microphone dengan microphone yang lainnya tidak selalu sama terhadap semua arah kedatangan suara. Percobaan dan pengukuran akhirnya menghasilkan apa yang disebut directivity/sensitivity patern.

Arah penerimaan/polar pattren dalam kebanyakan microphone penerimaan yang diinginkan adalah konsisten pada semua frekuensi. Jika tidak maka warna suara/frekuensi pada microphone berbeda.

Arah penerimaan/polar pattren microphone dibagi menjadi tiga yaitu :

Omni Directional

Omni directional umumnya sama dengan microphone lainnya, tetapi microphone jenis omni mempunyai kelebihan untuk menangkap suara frekuensi pada sudut 0 derajat terhadap sumber suara dan mempunyai respon dengan level yang baik pada frekuensi rendah. Penggunaan microphone di dalam studio yang baik adalah menggunakan microphone jenis directional cardiodid. Adalah pola yang sederhana, bentuk pola yang melingkar. Sensitivitas suara sama dari segala arah, dalam kenyataannya pola Omni kurang sensitif pada bagian belakang, seperti terlihat pada gambar berikut.

Bi Directional

Pola ini antara depan dan belakang mempunyai sensitivitas yang sama baiknya. Tetapi pada bagian sampnig tidak sensitiv, sehingga bentuk polanya mirip dengan angka 8. Pola Bi Directional sering populer dengan sebutan angka 8. Bi directional yaitu microphone yang mempunyai 2 arah penangkapan yaitu dari depan dan dari belakang tanpa menggeser microphone, jenis ini banyak dipergunakan untuk dialog pada saat sandiwara.

Uni Directional

Pola ini mempunyai arah penangkapan yang sensitiv dari arah depan saja, pada bagian belakang mengalami pelemahan. Pola pattren Uni Directional dibagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Cardioid yaitu microphone yang mempunyai arah penangkapan getarannya satu arah yang mempunyai sudut melebar, yaitu arah penangkapan untuk microphone jenis ini begitu bersih pada 0 derajat dengan sumber suara 1 dan tidak tercampur dengan suara yang tidak diinginkan dari sumber suara 2 atau sudut 180 derajat.
  2. Super Cardioid yaitu microphone yang bentuk arah penangkapan getaran bunyi seperti cardiodid, akan tetapi mempunyai gaung yang lebih besar dari microphone Cardiodid tetapi lebih kecil dari microphone jenis hiper cardiodid.
  3. Hyper Cardioid yaitu microphone yang bentuk arah penangkapan getaran bunyi seperti cardiodid, akan tetapi mempunyai gaung yang lebih besar disebabkan oleh jangkauan penangkapan yang lebih jauh dari microphone lainnya.

Pada pola Super dan Hyper Cardioid hampir sama denga Cardioid, tetapi pada bagian samping mengalami perlemahan, jangkauan lebar derajat juga mengalami penyempitan.

Kesimpulan:

Dari jenis dan pola penerimaan microphone, kita dapat memilih microphone yang paling cocok untuk jenis instrumen musik yang diinginkan. Selain itu setiap pembelian microphone harus selalu diperhatikan spesifikasinya, karena akan sangat membantu nantinya dalam hal penggunaanya dalam pemungutan suara pada sebuah instrmen musik.

Dalam memilih dan penempatan mikropon yang terbaik, harus mempertimbangkan dua aturan penting yaitu:

Pertama : Untuk membantu mencapai pemungut suara yang baik, jangan ragu-ragu mengadakan percobaan dalam rangka mendapatkan suatu bunyi yang terbaik sesuia dengan rasa kita.

Kedua : Keseluruhan bunyi dari suatu isyarat audio adalah tidak ada yang lebih baik daripada mata rantai yang paling lemah di dalam jalur isyarat.


Copyright © 2009 Gloria Entertainment Musik All rights reserved.